Tampilkan postingan dengan label Ekonomi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ekonomi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 05 Februari 2010

Wall Street Lemahkan IHSG

Diposting oleh Diptarina Yasmeen di 16.06 0 komentar


Wall Street Lemahkan IHSG
Kamis, 4 Februari 2010 - 09:36 wib
Rani Hardjanti - Okezone
JAKARTA - Indeks harga saham gabungan (IHSG) pada perdagangan pagi ini dibuka terkoreksi. Koreksi ini merupakan imbas dari indeks Wall Street yang melemah, dan memberikan imbas negatif pada pasar regional.

Bursa saham Wall Street yang terkoreksi akibat tertekan dari saham-saham sektor perbankan dan kesehatan, karena faktor politis yang menekan sentimen positif dari fundamental ekonomi Amerika Serikat (AS).

Pada perdagangan Kamis (4/2/2010), IHSG dibuka melemah 1,28 poin atau 0,05 persen ke posisi 2.603,27.

Jakarta Islamic Indeks (JII) terpantau melemah 0,4899 poin ke posisi 428,26 dan LQ45 turun 0,4899 poin ke posisi 428,26. Volume perdagangan terpantau 6,653 juta lembar saham senilai Rp25,75 miliar.

Saham yang dibuka menguat sebanyak 11 jenis saham, melemah 24 jenis saham, dan stagnan 38 jenis saham.

Saham-saham yang dibuka melemah atau top loser, antara lain PT Astra International Tbk (ASII) turun Rp150 ke posisi Rp35.500, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) turun Rp150 ke posisi Rp7.500, PT United Tractors Tbk (UNTR) turun Rp50 ke posisi Rp16.600.

Saham-saham yang dibuka menguat atau top gainer, antara lain PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) naik Rp150 ke posisi Rp31.950, PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) naik Rp150 ke posisi Rp23.400, PT Tambang Batubara Bukit Asam Tbk (PTBA) naik Rp50 ke posisi Rp16.950.(rhs)
Okezone.com

Angka Kemiskinan 2010 Dipengaruhi Inflasi

Diposting oleh Diptarina Yasmeen di 16.02 0 komentar


Angka Kemiskinan 2010 Dipengaruhi Inflasi
Kamis, 4 Februari 2010 - 09:46 wib
Andina Meryani - Okezone
JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) memperkirakan angka kemiskinan pada 2010 akan dipengaruhi oleh angka inflasi di triwulan pertama.

Demikian disampaikan oleh Kepala BPS Rusman Heriawan seusai Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi XI DPR RI, di Gedung MPR/DPR RI, Senayan, Jakarta, Rabu kemarin.
Menurutnya, angka inflasi pada triwulan pertama memang cenderung lebih tinggi dibanding dengan triwulan-triwulan lainnya karena faktor musiman.

Oleh karena itu, pemerintah semestinya menjaga stabilitas harga bahan pokok agar daya beli masyarakat terjamin, sehingga pemerintah tidak perlu lagi memberikan BLT kepada masyarakat miskin. Saat ini diperkirakan jumlah orang miskin sekira 35 juta orang.

"Bisa saja kalau pemerintah enggak memberi apa-apa, harga turun orang miskin akan berbahagia. Kenapa dikasih BLT? Karena harga meningkat, jadi sama saja, mending enggak usah kasih BLT tapi harga enggak naik," pungkasnya.
(ade)
Okezone.com

BI: Perbaikan Ekonomi Seiring Pemulihan Ekonomi Global

Diposting oleh Diptarina Yasmeen di 15.59 0 komentar


BI: Perbaikan Ekonomi Seiring Pemulihan Ekonomi Global
Kamis, 4 Februari 2010 - 13:39 wib
JAKARTA - Dewan Gubernur Bank Indonesia (BI) meyakini bahwa perbaikan kondisi perekonomian domestik terus berlangsung sebagaimana yang diperkirakan, sejalan dengan pemulihan ekonomi global yang semakin kuat.

Hal tersebut diungkapkan Kepala Biro Direktorat Perencanaan Strategis dan Hubungan Masyarakat Bank Indonesia Difi A Johansyah, dalam situs BI, di Jakarta, Kamis (4/2/2010).

Perkiraan terkini menunjukkan pertumbuhan ekonomi global pada tahun 2010 dan 2011 akan lebih tinggi. Pemulihan ekonomi global tetap dimotori oleh negara Asia, terutama China yang terus menunjukkan perkembangan membaik, meskipun pasar keuangan sempat diwarnai oleh sentimen negatif terkait kebijakan pengetatan di China.

Sementara di negara maju, proses pemulihan ekonomi berlangsung dengan laju yang lebih moderat. Di sisi domestik, pertumbuhan ekonomi diperkirakan akan lebih tinggi didukung oleh konsumsi yang masih tumbuh cukup tinggi sejalan dengan perbaikan daya beli dan tingkat keyakinan konsumen.

Ekspor menunjukkan kecenderungan meningkat sejalan dengan pemulihan ekonomi global yang semakin kuat. Demikian pula surplus neraca pembayaran diperkirakan akan lebih tinggi, didukung oleh surplus pada transaksi berjalan yang relatif besar.

Arus modal luar negeri yang masuk ke perekonomian domestik juga relatif besar sejalan dengan kondisi fundamental perekonomian domestik yang cukup kuat dan meningkatnya rating Indonesia. Dengan perkembangan ini, cadangan devisa Indonesia pada akhir Januari 2010 tercatat sebesar USD 69,6 miliar atau setara dengan 5,9 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri Pemerintah.

Di sisi harga, inflasi bulan Januari 2010 tercatat 0,84 persen (mtm) atau 3,72 persen (yoy). Tekanan inflasi terutama dipicu oleh kenaikan harga kelompok volatile food yang bersifat temporer, khususnya beras, yang diperkirakan akan semakin menurun sejalan dengan perkiraan panen raya di bulan-bulan yang akan datang.

Perkembangan inflasi inti hanya mencatat sedikit kenaikan, terutama bersumber dari tren kenaikan harga komoditas internasional, sementara peningkatan di sisi permintaan masih dapat direspon sisi penawaran secara memadai.

Ke depan, Dewan Gubernur meyakini bahwa tekanan inflasi belum akan muncul setidaknya sampai semester I-2010. Secara keseluruhan, inflasi 2010 diyakini masih sesuai dengan sasarannya sebesar 5 persen kurang lebih satu persen.

Di sektor keuangan, stabilitas sistem perbankan tetap terjaga. Pertumbuhan kredit yang pada tahun 2009 lebih rendah dari yang diharapkan, pada 2010 diperkirakan kembali terakselerasi sebesar 17 persen-20 persen sejalan dengan meningkatnya keyakinan pelaku ekonomi terhadap prospek perekonomian.

Berdasarkan data per Desember 2009, kredit perbankan mengalami pertumbuhan sebesar 10 persen (yoy), dengan kredit Rupiah tumbuh 16,5 persen, sedangkan kredit valas mengalami kontraksi sebesar 17,4 persen sejalan dengan melemahnya kegiatan ekspor impor. Di sisi mikro, industri perbankan menunjukkan perkembangan yang stabil sebagaimana tercermin pada tingginya rasio kecukupan modal sebesar 17,4 persen per Desember 2009 dan terjaganya rasio kredit bermasalah gross di bawah 5 persen. Selanjutnya Bank Indonesia akan memantau dan mengupayakan agar efisiensi perbankan terus dapat ditingkatkan sehingga fungsi intermediasi perbankan dapat dioptimalkan.

Laporan lengkap mengenai pembahasan Rapat Dewan Gubernur (RDG) Januari 2010 yang memuat perkembangan makroekonomi dan kebijakan moneter dapat dilihat dalam Tinjauan Kebijakan Moneter (TKM) di website Bank Indonesia.

(Didik Purwanto/Koran SI/rhs)
Okezone.com

Sabtu, 23 Januari 2010

IHSG Anjlok Bukan dari Sektor Perbankan

Diposting oleh Diptarina Yasmeen di 15.43 0 komentar


IHSG Anjlok Bukan dari Sektor Perbankan
Jum'at, 22 Januari 2010 - 15:46 wib
Widi Agustian - Okezone
JAKARTA - Indeks harga saham gabungan (IHSG) yang semakin anjlok dinilai bukan karena pembobolan yang terjadi di sejumlah perbankan, sehingga membuat saham perbankan menjadi drop.

"Jumlah memang besar tapi buat bank enggak besar. Investasi pasar modal enggak akan mempengaruhi saham perbankan. Itu turun karena regional, Hong Kong turun, kaitannya sangat kecil," tukas Ketua Bapepam-LK Fuad Rahmany, di Jakarta, Jumat (22/1/2010).

Menurutnya, penurunan tersebut juga bukan karena kinerja dari perbankan, tapi lebih karena semakin tingginya tingkat kriminal. "Ini kriminal kerah putih semakin banyak. Tapi ini mendorong bank dan regulator bank untuk menghadapi kejahatan seperti ini," tegasnya.

Di sisi lain, saat disinggung mengenai regulasi untuk meningkatkan otoritas apakah dengan pengetatan likuiditas, dia menambahkan bila di dalam negeri dampaknya terhadap likuiditas Indonesia tidak terlalu besar.

"Mereka khawatir karena inflasi meningkat, sehingga terjadi pengetatan. Tapi pertumbuhan China kan cukup tinggi, kalau mereka mengerem, supaya inflasi enggak terlalu tinggi sehingga dampak enggak besar ke kita," ujarnya.

Dikatakannya, jumlah investor China di Indonesia memang banyak. Namun apabila dibandingkan dengan Eropa dan Amerika Serikat (AS) tidak terlalu banyak.

"Untuk finansial, China tingkat keterkaitannya tidak terlalu tinggi dibandingkan dengan Amerika dan Eropa. Stimulus AS juga masih digenjot dan bunga enggak ditingkatkan," pungkasnya.
(ade)
Okezone.com

Senin, 18 Januari 2010

Asia Hadapi Peluang Emas

Diposting oleh Diptarina Yasmeen di 18.38 0 komentar


Asia Hadapi Peluang Emas

Selasa, 19 Januari 2010 - 07:45 wib
TAIPEI - Institusi keuangan di Asia menghadapi peluang emas setelah pelemahan global membuat negara-negara Barat terguncang. Potensi ini harus bisa dimanfaatkan dengan baik.

Wakil Komisaris Government of Singapore Investment Corporation (GIC) Tony Tan menyatakan, perusahaan-perusahaan di Asia memiliki kondisi yang lebih baik dibandingkan kompetitornya di negara-negara Barat. Perusahaan Asia akan menjadi aktor utama ekspansi di beberapa tahun mendatang. "Sistem perbankan Barat yang sudah global menghadapi guncangan modal dan regulasi sehingga membutuhkan tambahan modal besar untuk mengantisipasi pertumbuhan keuangan Asia yang terus tumbuh. Ini menjadikan institusi keuangan dan pasar di Asia memiliki keunggulan dalam beberapa tahun ke depan,” ujar dia kemarin.

Saat ini GIC perusahaan merupakan pengelola kekayaan negara (sovereign wealth fund) terbesar keempat di dunia. Total portofolio BUMN Singapura ini melebihi USD100 miliar. Tan mengungkapkan, keunggulan perbankan Asia naik dibandingkan negara Barat seiring meluasnya krisis keuangan global. Krisis ini telah memicu perbankan Barat mengalami guncangan modal dan likuiditas. Perbankan Barat juga merasakan lonjakan aset bermasalah akibat kenaikan kredit bermasalah. Akibatnya, kesehatan modal, likuiditas, dan aset bermasalah di perbankan Asia auh lebih baik dibandingkan kompetitornya di Barat.

"Tapi,bank dan pasar modal di Asia harus secara cepat mengembangkan diri dan memanfaatkan situasi ini. Regulator dan otoritas sektor keuangan di Asia harus meningkatkan kerja sama dengan institusi keuangan secara lebih kuat agar pasar keuangan regional dan pasar modal dapat berkembang lebih maju,”harap Tan. "Bank Asia mendapat manfaat dari memasuki krisis dengan tingkat yang relatif sehat modal, likuiditas, dan aset non-performing,tapi sekarang mereka harus bertindak cepat,”kata Tan. "Regulatory dan otoritas pembangunan di sektor keuangan di Asia perlu bekerja sama seperti belum pernah terjadi sebelumnya dengan satu sama lain dan lembaga keuangan untuk mengembangkan keuangan daerah dan pasar modal.”

Ancaman Double-Dip Recession

Dana Moneter Internasional (IMF) memperingatkan negaranegara di Asia atas ancaman resesi kedua (double-dip recession) jika tergesa-gesa mengakhiri kebijakan stimulus ekonomi. Double-dip recession adalah perekonomian kembali ke resesi setelah mengalami pertumbuhan sejenak.

"Jika Anda terlalu cepat mengakhiri (kebijakan stimulus), ada menghadapi risiko kembali ke masa resesi.Anda tidak pernah tahu, itu mungkin terjadi,”ungkap Direktur Pelaksana IMF Dominique Strauss- Kahn di Jepang kemarin. Masalahnya, kata Strauss-Kahn, pemerintah-pemerintah di dunia sudah kelelahan mengerahkan semua potensi dan kebijakan untuk mendukung pertumbuhan. Namun, pelemahan ekonomi baru akan terjadi jika mereka terlalu cepat mengakhiri kebijakan stimulus. "Saya juga tidak tahu apa lagi yang bisa kita lakukan,” ucap dia. Dia mengakui bahwa tandatanda rebound ekonomi global sudah ada. Namun, banyak pemain global yang berpendapat terlalu dini mengakhiri stimulus.

Menurut Strauss-Kahn, kondisi perusahaan dan pengangguran merupakan indikator terbaik untuk memutuskan kapan waktu mengakhiri kebijakan stimulus. Hingga saat ini kedua hal ini masih suram. "Permintaan swasta yang bergantung pada belanja pemerintah bukan jalur yang berkesinambungan. Dan ada risiko peningkatan pengangguran di masa mendatang,” kata dia. Strauss-Kahn menilai, pengambil kebijakan di Asia harus mulai merencanakan desain strategi keluar dari krisis.Ini akan menjadi acuan perekonomian negara untuk menghadapi krisis hingga keluar dari krisis. Soal kekhawatiran pengetatan moneter China, Strauss-Kahn tidak memberikan keterangan yang jelas."Pasti, kita membutuhkan pertumbuhan tinggi di China,” papar dia.

Strauss-Kahn menambahkan, bank sentral yang menjaga pasar terlalu lama bisa mengundang masalah lain seperti penggelembungan aset. IMF juga meminta pemerintah untuk menjaga anggaran belanja yang agresif dan melakukan pembiayaan dengan obligasi pemerintah.
(Achmad Senoadi/Koran SI/css)
Okezone.com

Minggu, 17 Januari 2010

Ekonomi Asia Siap Percepat Pertumbuhan

Diposting oleh Diptarina Yasmeen di 14.54 0 komentar


Ekonomi Asia Siap Percepat Pertumbuhan
Jum'at, 15 Januari 2010 - 12:35 wib
Ade Hapsari Lestarini - Okezone
JAKARTA - Studi yang dikeluarkan oleh Bank Pembangunan Asia (ADB) menyatakan bila Asia sudah siap untuk mempercepat pertumbuhan ekonominya, setelah krisis ekonomi global mulai berkurang. Kendati demikian pemulihannya masih akan rapuh.

Demikian seperti diungkapkan pihak ADB, dalam keterangan tertulisnya kepada okezone, di Jakarta, Jumat (15/1/2010).

Adapun penyesuaian kebijakan ekonomi tersebut nantinya akan dikalibrasi dengan hati-hati bersamaan dengan upaya peningkatan integrasi yang akan dibutuhkan untuk mempertahankan pertumbuhan dan mencegah guncangan di masa depan.

Studi, yang diberi judul Perubahan Kebijakan untuk Asia setelah Resesi Global: Dampak Ekonomi Global dan Implikasi Kebijakan, mencatat bahwa pertumbuhan di wilayah ini diharapkan bisa dipercepat pada tahun ini dan bisa mendapatkan kembali kekuatan ekonomi global.

Namun demikian, studi ini juga mengingatkan bahwa pemulihan di Asia masih terlalu bergantung pada dukungan kebijakan dari negara maju, sementara perputaran di wilayah pasar terbesar yakni Amerika Serikat, belum mendapatkan aksi.

Arus modal yang dapat menyebabkan volatilitas nilai tukar dan likuiditas dalam negeri juga terus berisiko bagi negara-negara berkembang di kawasan tersebut.

Penelitian ini disiapkan sebagai salah satu dari serangkaian laporan yang akan dipresentasikan pada dua hari forum regional pada Dampak Global Krisis Ekonomi dan Keuangan yang diselenggarakan oleh ADB di Manila.

Pejabat tinggi termasuk pembuat kebijakan, para menteri keuangan, kepala bank sentral, para pemimpin bisnis, dan pengembangan para ahli dari hampir 20 negara di negara berkembang Asia akan mengambil bagian dalam forum.

"Daerah ini (Asia) sekarang menunjukkan tanda-tanda pemulihan berbentuk V, dengan prospek pertumbuhan 6,6 persen untuk tahun ini. Meskipun kami percaya negara berkembang di Asia telah memimpin pemulihan ekonomi global, masih terlalu awal bisa santai untuk mengembalikan permintaan dan menstabilkan sistem keuangan. Secara khusus, strategi untuk keluar stimulus fiskal pun harus hati-hati," tukas Presiden ADB Haruhiko Kuroda.

Selain itu, pengurangan kemiskinan tidak akan dipertahankan pada kecepatan pra-krisis, kecuali sumber pertumbuhan yang lebih seimbang ke arah permintaan domestik dan regional, dan dibuat lebih inklusif.

ADB pun mengatakan bila pertumbuhan daerah merupakan hal yang sangat penting untuk membawa kembali ke lintasan yang lebih tinggi demi pengurangan kemiskinan dan untuk mendukung pemulihan global.
(ade)
Okezone.com


Selasa, 05 Januari 2010

Wajah Pasar Modal 2010

Diposting oleh Diptarina Yasmeen di 15.27 0 komentar


Wajah Pasar Modal 2010
Senin, 4 Januari 2010 - 08:37 wib
Setahun lalu, masih ingatkah Anda bagaimana membayangkan pasar modal Indonesia di 2009? Sebagian besar pelaku pasar, analis dan investor menatap 2009 dengan sikap was-was, penuh keraguan, bahkan ada yang pesimis dan menatap tanpa gairah.

Maklum, memasuki 2009 lalu, semua pelaku pasar baru saja menghadapi dampak psikologis yang amat dasyat akibat pasar tertekan sangat hebat oleh krisis keuangan yang menjalar seantero dunia.

Bayangan suram, bukan hanya menghinggapi pelaku pasar, tetapi pelaku ekonomi pada umumnya. Tahun 2009 dipandang sebagai tahun yang penuh ketidakpastian.

Fakta rupanya bicara lain. Bayangan suram yang ditakutkan hanya berlangsung pada tiga pertama 2009. Indikator pasar pada tiga bulan pertama sesuai dengan bayangan suram yang menggelayuti benak pelaku pasar.

Transaksi saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) minim. Nilai rata-rata transaksi harian selalu di bawah Rp 2 triliun. Januari tercatat Rp 1,65 triliun, Februari Rp 1,23 triliun dan Maret sedikit bergerak naik menjadi Rp 1,85 triliun. Rata-rata saham yang berpindah tangan juga kecil, tidak lebih dari 2 miliar saham sehari. Begitupun dengan frekwensi transaksi, ada di kisaran 40.000-an per hari. IHSG pada Januari dan Februari tercatat terus terkoreksi. Pendek kata, kondisi pasar tiga bulan pertama mewakili perasaan pelaku pasar yang pesimis.

Bulan ke empat, April dan seterusnya, tanpa diduga pasar seperti mendapat suntikan energi besar, tiba-tiba bergerak kencang dan melaju cepat. Semua indikator perdagangan mengalami peningkatan yang tidak disangka-sangka.

Hingga tulisan ini dibuat, pasar masih memperlihatkan kegairahannya, meskipun sesekali agak terganggu oleh faktor-faktor di luar pasar yang mendatangkan sentiment negatif. Catatan BEI, sampai 11 Desember lalu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) telah bertengger di level 2.519,10 atau tumbuh 85,86 persen dibandingkan penutupan 2008 di titik 1.355,41.

Pertumbuhan IHSG sebesar itu sekaligus menempatkan BEI di peringkat pertama sebagai Bursa Efek yang mencatat prestasi atau return tertinggi di dunia. Posisi kedua dan ketiga ditempat bursa Shanghai (78,34 persen) dan Bursa Mumbai India (77,45 persen). Nilai rata-rata transaksi harian mencapai Rp 4,1 triliun dan volume rata-rata 6,33 Miliar lembar saham dengan frekwensi rata-rata mencapai 88.000 kali transaksi per hari.

Pendek kata, nuangsa pasar di 2009 sama sekali berbeda 180 derajat dibandingkan dengan suasana pasar 2008. Pada 2008, investor diliputi suasana ‘berkabung’, sedangkan pada 2009 perasaan investor berbunga-bunga ibarat menikmati angin surga.

2010

Bagaimana dengan 2010, Tahun Macan yang sebentar lagi datang? Tahun 2008 dan 2009 memberikan pelajaran berharga bagi investor untuk menghadapi 2010. Apakah 2010 akan diwarnai aksi profit taking besar-besaran setelah sepanjang 2009 investor menangguk untung 85,86 persen? Ataukah pencapaian selama 2009 masih akan terus berlanjut hingga 2010?

Harus diingat pada awal 2008, IHSG pernah mencapai puncaknya di level 2.830-an. Jika ini dijadikan sebagai tolok ukur puncak prestasi, maka sebenarnya pertumbuhan IHSG 2009 yang amat gemilang tadi belum mengembalikan pasar modal pada posisi puncak yang pernah dicapai. Artinya masih ada peluang untuk meneruskan pertumbuhan nilai portofolio. Apalagi faktor untuk mencapai pertumbuhan itu amat mendukung.

Dari sisi makro ekonomi, diperkirakan pertumbuhan ekonomi akan mencapai kisaran 5,3 persen hingga 5,5 persen. Bahkan ada yang berani menaksir hingga 6 persen. Untuk mencapai pertumbuhan sebesar itu tentu saja dibutuhkan investasi yang juga besar. Ekonom dari Universitas Indonesia Chatib Basri dalam sebuah presentasinya mengatakan untuk mencapai pertumbuhan ekonomi sebesar 1 persen dibutuhkan investasi sebesar 4,5 persen APBN. Bisa dihitung berapa dana investasi yang dibutuhkan untuk mencapai pertumbuhan 5,3 persen. Dari mana sumbernya? Salah satu andalannya adalah sektor swasta dan pasar modal.

Maka jangan heran jika pada 2010 akan banyak Emiten baru dan akan banyak Emiten yang akan menambah modalnya melalui penerbitan saham baru atau obligasi. BEI sendiri menargetkan Emiten baru sebanyak 25 perusahaan. Jumlah perusahaan yang akan mencatat emisi saham tambahan sebanyak 35 perusahaan.

Dari sisi moneter, posisi nilai tukar Rupiah juga diramal akan semakin kuat di kisaran Rp 9.300 per dolar AS hingga Rp 9.500 per dolar AS. Tingkat suku bunga acuan diperkirakan sekitar 7 persen dan laju inflasi ditaksir berkisar 6,5 persen.

Dengan indikator makro yang lebih baik, pemodal boleh menaruh asa pada 2010. Hilangkan sikap putus asa akibat runtuhnya pasar pada 2008. Jika Anda belum merasakan nikmatnya pertumbuhan saham pada 2009, maka masih ada peluang untuk merasakannya di 2010. (Tim BEI)(//rhs)
Okezone.com

Rasio Utang Indonesia Terus Turun

Diposting oleh Diptarina Yasmeen di 15.24 0 komentar


Rasio Utang Indonesia Terus Turun
Senin, 4 Januari 2010 - 07:26 wib
JAKARTA - Rasio utang pemerintah tahun 2009 turun menjadi 30 persen, melampaui target yang ditetapkan 31,8 persen. Rasio utang Indonesia terus turun, dari tahun 2000 yang mencapai 89 persen.

“Keberhasilan pemerintah menurunkan rasio utang pada 2009 menjadi 30 persen, tercapai seiring kenaikan nilai tukar rupiah,"kata Deputi Bidang Pendanaan Pembangunan Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional (Bappenas) Lukita Dinarsyah Tuwo di Jakarta baru-baru ini.

Menurut dia, utang pemerintah hingga akhir 2009 sebesar USD67,86 miliar atau setara Rp1.602,86 triliun, mengalami penurunan dibandingkan jumlah utang per akhir 2008 sebesar Rp1.636,74 triliun atau dalam denominasi dolar mencapai USD149,47 miliar. Rasio utang 30 persen itu merupakan kombinasi dari 18 persen surat utang negara (SUN) dan pinjaman luar negeri 12 persen.

“Utang Indonesia jika dikonversi ke dalam rupiah nilainya menurun seiring dengan nilai tukar rupiah yang menguat, dari Rp10.950 per dolar AS pada 2008, menjadi Rp9.545 per dolar AS pada akhir 2009. Utang itu terdiri dari pinjaman USD65,65 miliar dan surat berharga USD102,2 miliar," paparnya. Data Ditjen Pengelolaan Utang Depkeu menunjukkan, hingga tahun 2009, terjadi kenaikan dalam penerbitan surat uang pemerintah pusat dari USD82,78 miliar pada akhir 2008 menjadi USD102,2 miliar.

Sementara itu, rincian pinjaman yang diperoleh pemerintah pusat hingga akhir Oktober 2009 adalah utang bilateral USD42,6 miliar, utang multilateral USD20,78 miliar,dan utang komersial USD2,2 miliar. Secara jumlah,utang Indonesia meningkat dari tahun ke tahun. Namun secara rasio terhadap produk domestik bruto (PDB), utang terus menurun. Tercatat, utang pemerintah pusat sejak tahun 2005 berikut rasio utang terhadap PDB menunjukkan perkembangan positif. Secara berturut-turut, utang pemerintah mengalami penurunan. Pada 2005 utang pemerintah tercatat sebesar Rp1.313,29 triliun (47 persen), tahun 2006 Rp1.302,16 triliun (39 persen), tahun 2007 Rp1.389,41 triliun (35 persen) dan pada 2008 Rp1.636,74 triliun (33 persen).

Namun,menurut Ketua Koalisi Anti Utang Danny Setiawan,penurunan rasio utang menjadi 30 persen sama sekali bukan kabar baik.Jumlah utang pemerintah Indonesia, tegas dia,justru bertambah karena penarikan utang baru. Pada 2010 saja, kata dia, utang sudah mencapai Rp233 triliun. Risiko utang terhadap perekonomian pun menurut dia semakin besar. Dia mencontohkan besarnya jumlah pembayaran utang jatuh tempo tahun ini,yang mencapai Rp130 triliun. “Artinya,tahun ini pemerintah semakin agresif melayani pihak asing untuk terus berutang.

Sementara subsidi buat rakyat dikurangi, untuk membayar utang.Dan ekonomi semakin terbuka bagi investor asing," cetus Danny. Terkait dengan itu, Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FEUI) Firmanzah mengatakan bahwa pemerintah perlu mendongkrak penerimaan melalui pajak dan sumber-sumber lainnya, seperti dividen dari badan usaha milik negara (BUMN). Kebutuhan pemerintah akan pendanaan, kata dia, selama ini memang masih belum bisa ditutupi oleh penerimaan pajak dan dividen BUMN. Hal itu terlihat dari pencapaian pajak 2009 yang lebih kecil dari ekspektasi awal.

Tercatat hingga akhir tahun 2009 penerimaan pajak hanya Rp623 triliun, atau 95,6 persen dari target yang dipatok dalam APBN-P 2009 sebesar Rp652,0 triliun. Dari angka tersebut, setoran pajak yang dihimpun oleh Ditjen Pajak diperkirakan hanya sebesar Rp549,9 triliun atau 95,2 persen dari target APBN-P 2009. (Bernadette Lilia Nova)
Okezone.com

Jumat, 01 Januari 2010

Pertumbuhan Ekonomi 2009 Capai 4,4 Persen

Diposting oleh Diptarina Yasmeen di 16.43 0 komentar

Menkeu: Pertumbuhan Ekonomi 2009 Capai 4,4 Persen


KOMPAS/RIZA FATHONI
Sri Mulyani Indrawati

Selasa, 29 Desember 2009 | 15:42 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com — Menjelang akhir tahun, pemerintah optimistis target pertumbuhan ekonomi tahun 2009 ini dapat tercapai sekitar target yang ditetapkan sebesar 4,5 persen. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memperkirakan, pertumbuhan ekonomi tahun 2009 setidaknya akan mencapai 4,4 persen.
"Untuk kuartal IV kita tetap akan di zone 4,5 persen sehingga overall growth 4,3 hingga 4,4 persen maksimal," ujar Menteri Keuangan di Depkeu, Jakarta, Selasa (29/12/2009).
Menurutnya, pertumbuhan ekonomi kuartal IV-2009 dipengaruhi oleh beberapa sektor yang mulai tumbuh, seperti sektor perdagangan, telekomunikasi konstruksi, listrik, dan air dibandingkan tiga kuartal sebelumnya pada 2009 ini.
Meski demikian, dia memperkirakan ada tiga industri yang tidak meningkat pada kuartal terakhir tahun ini. Salah satunya, sektor industri manufaktur. "Mungkin sektor industri manufaktur yang tidak akan meningkat cukup takam pada kuartal terkahir ini," kata Menkeu.
Sementara itu, untuk tingkat inflasi secara year on year akan di bawah angka 4 persen. Dia menjelaskan, harga komoditas yang mulai merangkak naik menjadi salah satu faktor terbesar penyumbang inflasi tahun ini.
"Segi faktor penyumbangnya, mungkin dari sisi komoditas, saya lihat mungkin dari sisi faktor makanan yang tetap akan muncul," tuturnya.
 

Berbagi Cerita . . . Copyright © 2009 Baby Shop is Designed by Ipietoon Sponsored by Emocutez